Pencegahan Hipertensi

Pencegahan hipertensi

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa menderita hipertensi . Diperlukan tindakan yang mencakup seluruh populasi untuk mengurangi akibat tekanan darah tinggi dan meminimalkan kebutuhan terapi dengan obat antihipertensi.

Para dokter menganjurkan agar merubah gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah, sebelum memulai terapi dengan obat-obatan.

Pedoman British Hypertension Society 2004  menganjurkan perubahan gaya hidup yang sesuai dengan pedoman dari US National High BP Education Program tahun 2002 untuk pencegahan utama bagi hipertensi sebagai berikut:

  • Menjaga berat badan agar tetap stabil misalnya, indeks massa tubuh 20 hingga 25 kg per m2.
  • Diet dengan cara mengurangi asupan natrium sampai kurang dari 6 g natrium klorida atau kurang dari 2,4 g natrium per hari atau 100 mmol per hari.
  • Berolah raga dan melakukan aktifitas fisik secara teratur, misalnya jalan cepat atau senam aerobik yang rutin dilakukan setiap hari selama minimal 30 menit per hari.
  • Mengurangi asupan alkohol tidak lebih dari 3 unit per hari pada laki-laki dan tidak lebih dari 2 unit per hari pada perempuan.
  • Memperbanyak konsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran yang kaya serat sedikitnya lima porsi per hari.

Dengan merubah gaya hidup dapat menurunkan tekanan darah sebanding dengan menggunakan terapi obat-obatan antihipertensi. Gabungan dari dua atau lebih perubahan gaya hidup dapat memberikan hasil yang signifikan.

Perubahan Gaya Hidup

Penanganan tipe pertama untuk hipertensi identik dengan menganjurkan perubahan gaya hidup yang sifatnya hanya untuk pencegahan yang meliputi perubahan penurunan berat badan, olah raga, dan diet ketat.

Semua perubahan ini telah dibuktikan dapat menurunkan tekanan darah secara berarti pada penderita hipertensi. Meskipun pada tingkatan hipertensi yang cukup tinggi dan memerlukan terapi pemberian obat segera, metode perubahan gaya hidup tetap disarankan.

Berbagai cara sering kali dipromosikan dapat mengurangi hipertensi dan dirancang untuk mengurangi tekanan psikologis misalnya seperti biofeedback, relaksasi, atau meditasi. Namun, secara umum belum ada penelitian secara ilmiah yang mendukung program ini efektif atau tidak, karena kualitas penelitian yang ada masih belum mendukung.

Perubahan pola asupan makanan seperti diet rendah natrium sangat bermanfaat. Diet rendah natrium selama jangka panjang yang dilakukan lebih dari 4 minggu dan terbukti sangat efektif menurunkan tekanan darah, bagi penderita hipertensi maupun pada orang dengan tekanan darah yang normal.

Selain itu, bisa juga melakukan metode diet DASH yaitu suatu metode diet yang kaya kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, unggas, buah, dan sayuran, yang dipromosikan oleh National Heart, Lung, and Blood Institute, terbukti dapat menurunkan tekanan darah.

Kelebihan utama dari program diet ini adalah membatasi asupan natrium, namun diet ini kaya akan kalium, protein, kalsium, dan magnesium yang sangat dibutuhkan bagi tubuh.

Pengobatan

Saat ini tersedia berbagai macam obat-obatan yang secara keseluruhan disebut obat antihipertensi, yang bertujuan untuk pengobatan hipertensi. Di dasari dengan pertimbangan risiko kardiovaskuler termasuk risiko infark miokard, stroke, dan hasil pemeriksaan tekanan darah ketika meresepkan obat.

Jika metode pengobatan memang diperlukan, Seventh Joint National Committee on High Blood Pressure atau JNC-7 dari National Heart, Lung, and Blood Institute menyarankan agar dokter memonitor respons si pasien dengan obat yang diberikan,  serta menilai apakah ada efek samping dari obat yang diberikan.

Dengan penurunan tekanan darah sebesar 5 mmHg dapat mengurangi risiko penyakit stroke sebesar 34%  dan risiko penyakit jantung iskemik mencapai 21%. Penurunan tekanan darah juga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya penurunan daya ingat, gagal jantung, dan kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler.

Pengobatan harus ditujukan untuk mengurangi tekanan darah mencapai kurang dari 140mmHg sistolik 90 mmHg diastolik untuk mayoritas orang, dan lebih rendah lagi untuk mereka yang memiliki penyakit diabetes atau penyakit ginjal.

Sejumlah praktisi medis menyarankan agar kita terus menjaga tekanan darah  tidak melebihi pada level di bawah 120 mmHg sistolik dan 80 mmHg diastolik. Bila tekanan darah yang diharapkan tidak sesuai, maka diperlukan bantuan pengobatan lebih lanjut.

Pedoman mengenai pilihan obat dan cara terbaik untuk menentukan pengobatan untuk berbagai sub-kelompok pun berubah seiring berjalannya waktu dan berbeda-beda di berbagai negara. Para ahli berbeda pendapat tentang cara pengobatan yang terbaik untuk hipertensi.

Pedoman Kolaborasi Cochrane, WHO, dan Amerika Serikat mendukung pengobatan diuretik golongan tiazid dalam dosis rendah sebagai terapi pilihan pertama.

Sedangkan pedoman di Inggris menekankan pada penghambatan kanal kalsium atau calcium channel blocker yang disingkat CCB untuk pasien yang berusia di atas 55 tahun atau pasien yang berdarah Afrika atau Karibia dan dengan penghambatan enzim konversi angiotensin atau angiotensin converting enzyme inhibitors yang disingkat ACE-I digunakan pada baris pertama untuk pasien usia muda.

Di Jepang, pengobatan dianggap wajar apabila dimulai dengan satu dari 6 golongan obat termasuk: ACEI/ARB, CCB, penghambat reseptor beta, diuretik tiazid, dan penghambat reseptor alfa.

Sedangkan di Kanada semua obat ini dianjurkan sebagai lini pertama yang dapat digunakan kecuali penghambat reseptor alfa.

Kombinasi obat

Banyak orang yang memerlukan lebih dari satu macam obat untuk mengendalikan hipertensi yang mereka idap. Pedoman JNC7 dan ESH-ESC menyarankan untuk memulai pengobatan dengan dua macam obat apabila tekanan darah lebih dari 20 mmHg di atas target tekanan darah sistolik atau lebih dari 10 mmHg di atas target diastolik.

Kombinasi obat yang paling sering dipilih adalah inhibitor sistem renin angiotensin-dan calcium channel blockers, dan inhibitor sistem renin angiotensin-dan diuretik

Kombinasi yang bisa digunakan adalah sebagai berikut:

  • calcium channel blocker dan diuretik
  • beta-blocker dan diuretik
  • calcium channel blockers dihidropiridin dan beta-blocker
  • dihydropyridine calcium channel blockers dan verapamil atau diltiazem

Sedangkan kombinasi yang tidak bisa digunakan adalah:

  • Beta-blocker dengan verapamil atau diltiazem
  • Dual renin angiotensin-blokade sistem angiotensin converting enzyme inhibitor misalnya dengan angiotensin receptor blocker,
  • renin angiotensin-blocker sistem dengan beta-blocker
  • beta-blocker dengan centrally acting agents

Hindari mengkombinasikan penghambat ACE atau antagonis reseptor angiotensin II, diuretik, dan OAINS termasuk penghambat COX-2 selektif dan obat bebas tanpa resep seperti ibuprofen jika tidak terlalu mendesak, karena pasien akan beresiko tinggi terserang penyakit gagal ginjal akut.

Istilah awam dari kombinasi ini adalah “triple whammy” dalam literatur kesehatan Australia. Tersedia tablet yang mengandung kombinasi tetap dari dua golongan obat tersebut.

Meskipun nyaman untuk dikonsumsi, namun obat-obatan tersebut sebaiknya jangan diberikan untuk pasien yang biasa menjalani terapi dengan menggunakan obat tunggal

 

 

Post navigation

Leave a Reply