Kanker Endometrium

askep-kanker-endometrium

Definisi

Endometrium adalah selaput lendir atau jaringan rahim yang melapisi dinding rahim. Sedangkan kanker endometrium adalah selaput lendir atau jaringan rahim yang tumbuh di luar rahim.

Bagian endometrium halus dan mempunyai pori-pori. Endometrium selalu berubah setiap bulan karena sudah menjadi bagian dari siklus menstruasi.

Pada awal siklus menstruasi, indung telur (ovarium) akan mengeluarkan hormon estrogen yang bisa menyebabkan endometrium menjadi lebih tebal.

Kemudian pada pertengahan siklus menstruasi indung telur akan berhenti mengeluarkan estrogen dan mulai memproduksi hormon progesterone yang akan mempersiapkan bagian dalam endometrium untuk mempertahankan embrio, sehingga terjadi proses kehamilan.

Jika tidak ada proses penempelan embrio maka kadar progesteron akan menurun drastis sehingga bagian dalam endometrium yang luruh akan menjadi darah menstruasi.

Ketika sel-sel dinding rahim mulai mengalami perubahan dimana sel-sel mulai tumbuh bertambah banyak, maka terbentuklah benjolan yang disebut tumor. Dan inilah yang bisa menyebabkan kanker.

 

Gejala

  1. Terasa sakit ketika menstruasi
  2. Diare atau susah buang air besarsakit-punggung
  3. Pendarahan pada rahim
  4. Terasa sakit ketika buang air kecil
  5. Pendarahan keluar banyak ketika menstruasi. Umumnya terjadi pada perempuan yang memasuki masa menopause
  6. Ketika buang Air kencing mengeluarkan darah
  7. Merasakan sakit yang parah ketika berhubungan badan
  8. Sakit punggung pada bagian bawah
  9. Periode haid yang berlangsung lama
  10. Keluar darah pada saat buang air kecil dan terasa sakit
  11. Mengalami keputihan yang bercampur nanah dan darah
  12. Adanya benjolan pada daerah pinggul
  13. Berat badan turun.

 

Penyebab

Penyebab utama kanker endrometrium masih belum diketahui dengan jelas, namun setelah melalui beberapa penelitian, ada beberapa hal yang diduga sebagai pemicu kanker endrometrium, yaitu:

  • Wanita yang berbadan gemuk (obesitas) memiliki kadar estrogen yang tinggi dalam darah, sehingga mempunyai resiko terkena kanker endrometrium.
  • Sindroma ovarium polikistik yang bisa menyebabkan kadar estrogen dalam darah yang sangat tinggi sehingga meningkatkan resiko kanker.smoking
  • Penggunaan estrogen dosis tinggi dengan jangka waktu yang lama.
  • Wanita yang mengalami menstruasi pada usia yang masih sangat muda memiliki resiko yang lebih tinggi karena adanya peningkatan waktu paparan dinding rahim terhadap estrogen.
  • Menopause lambat dimana paparan estrogen yang bertambah lama pada dinding rahim.
  • Riwayat infertilitas.
  • Menstruasi yang tidak teratur.
  • Ras kulit putih.
  • Wanita yang berusia lebih dari 50 tahun (masa menopause).
  • Mengonsumsi obat kanker payudara (tamoxifen) dengan dosis yang tinggi
  • Mempunyai riwayat penyakit diabetes, hipertensi, dan penyakit kandung empedu.
  • Menggunakan kontrasepsi oral dosis tinggi.
  • Mempunyai kebiasaan merokok.

 

Diagnosa

Untuk mengetahui apakah anda terkena kanker endrometrium atau tidak maka anda harus menjalani beberapa tes seperti berikut :

  • Tes Laboratorium
  • Tes Radiologi
  • Tes Diagnosis

 

Pengobatan

Metode pengobatan kanker endometrium tergantung dari usia pasien, kondisi kesehatan umum pasien, ukuran tumor, tingkat stadium dan pengaruh hormon terhadap kecepatan pertumbuhan tumor.

Metode pengobatan :

  • Operasi pembedahan

Hampir semua penderita kanker endometrium akan menjalani operasi pengangkatan rahim (histerektomi). Ovarium dan kedua tuba falopii juga akan diangkat (salpingo-ooforektomi bilateral) karena sel-sel tumor bisa menyebar ke ovarium.

Hal ini untuk menghindari adanya kemungkinan sel-sel kanker tidak aktif (dorman) yang kemungkinan tertinggal yang akan beresiko tumbuh apabila terangsang oleh estrogen yang dihasilkan oleh ovarium. .

Dokter ahli bedah juga akan melakukan pengangkatan kelenjar getah bening apabila berhasil menemukan sel-sel kanker pada tumor yang terletak di kelenjar getah bening. Langkah tersbut harus dilakukan karena bila tidak segera diangkat bisa mengakibatkan sel kanker menyebar ke bagian tubuh yang lain.

Namin pasien tidak perlu menjalani pengobatan lain apabila sel kanker belum menyebar ke luar lapisan rahim (endometrium).

 

  • Terapi penyinaran (radiasi)

Terapi penyinaran dilakukan dengan menggunakan sinar X-ray untuk membunuh sel-sel kanker. Terapi ini merupakan terapi lokal dimana penyinaran yang dilakukan ke tubuh pasien hanya akan membunuh sel-sel kanker pada daerah yang disinari.

Terapi penyinaran dan pembedahan biasanya digunakan sebagai pengobatan untuk kanker endometrium dalam stadium I, II dan III. Terapi penyinaran bisa dilakukan pada saat sebelum atau sesudah operasi pembedahan.

Penyinaran yang dilakukan sebelum pembedahan bertujuan untuk memperkecil ukuran tumor, sedangkan penyinaran yang dilakukan setelah pembedahan bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa.

 

Terapi penyinaran yang dilakukan untuk pengobatan kanker endomteriumi terdiri dari 2 jenis, yaitu :

1. Radiasi eksternal

Terapi ini menggunakan sebuah mesin radiasi yang berukuran besar untuk membunuh tumor dengan cara mengarahkan sinar ke tubuh pasien. Penyinaran yang dilakukan biasanya sebanyak 5 kali dalam satu minggu.

Setelah menjalani terapi penyinaran ini pasien tidak perlu mendapatkan perawatan khusus di rumah sakit. Kelebihan dari terapi radiasi eksternal adalah tidak adanya zat radioaktif yang dimasukkan ke dalam tubuh pasien.

2. Radiasi internal

Terapi ini menggunakan sebuah selang kecil yang mengandung suatu zat radioaktif yang kemudian akan dimasukkan ke dalam vagina pasien dan akan dibiarkan selama beberapa hari.

Selama menjalani terapi radiasi internal pasien diwajibkan untuk mendapatkan perawatan khusus di rumah sakit.

 

  • Terapi hormonal (kemoterapi)

Terapi hormonal adalah pengobatan sistematik yang dilakukan dengan menggunakan zat yang mencegah sampainya hormon ke sel kanker dan mencegah sel kanker untuk memakai hormon. Hormon bisa menempel pada reseptor hormon dan mengakibatkan perubahan pada jaringan di dalam rahim.

Pasien diharuskan untuk menjalani tes reseptor hormon sebelum menjalani terapi hormon. Jika jaringan pada rahim memiliki reseptor maka kemungkinan besar pasien akan memberikan respon terhadap terapi hormonal. Pada umumnya terapi ini menggunakan pil progesteron.

Terapi ini hanya boleh digunakan untuk seseorang yang terinfeksi kanker dengan kondisi tertentu, misalnya :

  • Pasien yang terkena kanker yang kondisinya tidak memungkinkan untuk mennjalani terapi penyinaran atau operasi pembedahan.
  • Pasien dimana stadium kankernya sudah menyebar ke organ tubuh lainnya, misalnya paru-paru.
  • Pasien yang sebelumnya telah sembuh dari kanker rahim namun penyakitnya kembali kambuh.

Bila terapi hormonal tidak cukup ampuh untuk mengatasi kanker dan kanker masih terus menyebar maka pasien akan diberi obat kemoterapi lain yaitu doksorubisin, siklofosfamid dan sisplastin.

  1. Obat doksorubisin

Doksorubisin merupakan obat yang digunakan untuk kanker kemoterapi. Obat ini biasanya digunakan untuk mengobati beberapa leukemia, Hodgkin limfoma, serta kanker pada payudara, paru-paru, kandung kemih, perut, tiroid, ovarium, tiroid, multiple myeloma, sarkoma jaringan lunak dan sebagainya.

Efek samping yang akan dirasakan pasien setelah mengkonsumsi obat ini adalah mual, muntah, jantung aritmia, penurunan sel darah putih (neutropenia) dan rambut rontok (alopecia).

  1. Obat siklofosfamid

Obat ini membentuk ion karbonium atau kompleks lain yang bisa menyebabkan terjadinya alkilasi (ikatan kovalen) dengan berbagai nukleofilik dalam tubuh.

Efek samping yang akan dirasakan pasien setelah mengkonsumsi obat ini adalah mual, muntah, gangguan kesuburuan, alopesia, leucopenia, adanya rasa kenyang padahal belum makan (anoreksia), pigmentasi kulit dan kuku.

  1. Obat sisplastin

Obat ini merupakan obat kemoterapi kanker yang berbasis logam platinum. Cisplatin berperan sebagai anti kanker dengan cara menempelkan diri pada DNA sel kanker lalu menghambat pertumbuhan sel kanker.

Efek samping yang akan dirasakan pasien setelah mengkonsumsi obat ini adalah neprotoksisitas, neurotoksisitas, mual, muntah, keracunan sumsum tulang, kerontokan rambut (alopecia), dan penurunan kekebalan tubuh.

 

Efek samping pengobatan

Walaupun pasien bisa sembuh dari penyakit kanker endomterium namun terkadang pasien bisa terkena efek samping dari pengobatan yang telah dijalani sebelumnya karena pengobatan yang dilakukan cenderung menyebabkan kerusakan pada jaringan dan sel yang sehat.

Jenis dan luas jangkauan pengobatan juga bisa menjadi salah satu faktor yang bisa memberikan pengaruh terhadap efek samping yang akan dirasakan pasien.

Efek samping dari pengobatan kanker juga tergantung kepada berbagai faktor, diantaranya dosis, jenis obat, luasnya jangkauan pengobatan dan daerah yang disinari.

Berikut ini adalah efek samping yang biasa dialami oleh pasien yang telah menjalani terapi pengobatan kanker endometrium, yaitu :

  • Pada umumnya pasien akan merasa sangat lemah dan merasakan nyeri setelah menjalani operasi pengangkatan rahim. Biasanya pasien akan bisa menjalani kehidupan normalnya setelah melewati 1-2 bulan pasca operasi pembedahan.
  • Sebagian pasien mengalami gangguan berkemih, mual, muntah dan mengalami kesulitan dalam buang air besar.
  • Wanita yang telah menjalani operasi pengangkatan rahim tidak akan bisa mengalami menstruasi dan tidak akan bisa hamil.
  • Jika operasi pembedahan sampai mengangkat ovarium, maka pasien akan mengalami menopause dimana gejala lain yang timbul (seperti hot flashes) kemungkinan akan lebih berat bila dibandingkan dengan menopause alami.
  • Pasien yang telah menjalani operasi pengangkatan rahim akan merasakan kehilangan organ vitalnya sehingga pasien akan sulit merasakan kenikmatan dalam melakukan hubungan intim.
  • Pada umumnya terjadi perubahan kulit pada pasien, yaitu kulit berubah menjadi kemerahan dan lebih kering.
  • Daerah yang mendapatkan penyinaran pada bagian kepala akan mengalami kerontokan rambut.
  • Nafsu makan hilang.
  • Merasakan capek yang luar biasa walaupun tidak melakukan aktivitas apapun.
  • Pasien sering merasakan gatal-gatal, perih dan kekeringan pada vaginanya.
  • Pasien akan lebih sering buang air kecil dan terkena diare.
  • Terapi penyinaran bisa menyebabkan penurunan jumlah sel darah putih.
  • Wanita yang mengkonsumsi progesteron bisa mengalami peningkatan nafsu makan, penambahan berat badan dan penimbunan cairan. Jika masih mengalami menstruasi, maka siklusnya bisa mengalami perubahan.

 

Pencegahan

Sebaiknya anda menjalani pemeriksaan panggul, pap smear dan tes penyaringan secara rutin untuk menemukan tanda-tanda pertumbuhan yang abnormal.

Selain itu anda juga bisa melakukan pencegahan dengan rutin minum Nectura

 

Post navigation

Leave a Reply